Kelompok L’Anne Sociologique

Emile Durkheim
Lahir di kota kecil Lorraine 1858 dari keluarga yahudi Perancis. Buku pertamanya berjudul De la Division du Travail Social(1893)mengenai masalah pembagian kerja dalam masyarakat, bukunya yang kedua berjudul Les Regles de la methode Sociologique(1895) mengenai aturan-aturan metode sosiologi, le Suicide (gejal bunuh diri).
Konsep fakta social. Dalam berpikir dan bertingkah laku manusia dihadapkan pada gejala-gejala atau fakta-fakta sosial yang seolah-olah sudah ada pada diri para individu yang menjadi warga masyarakat tadi. Fakta-fakta sosial itu merupakan entitas yang berdiri sendiri, lepas dari fakta- fakata individu. Fakta- fakta sosial malahan mempunyai kekuatan memaksapara individuuntuk berpikir menurut garis-garis dan bertindak menurut cara-cara tertentu. Fakta-fakta sosial itu juga mempunyai sifat umumdalam arti bahwa pengaruhnya biasnaya tidak terbatas kepada satu atau beberapa individu saja, melainkan kepadasebagaian besar dari warga masyarakat yang bersangkutan. Bahasa misalnya, adalah suatu fakata sosial yang mempunyai kekuatan memaksa yang sangat umum, dan individu yang mencoba menyeleweng dari aturan tata bahasa akan dihukum dengan ejekan dan akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.
Fakta-fakta sosial itu mula-mula berasal dari pikiran atu tingkah laku individu, namun agar ada suatu fakta sosial harus ada beberapa individuyang berpikir atau bertingkah laku bersama. Sintesanya dimana pikiran dan tingkah laku tiap individu dirobah agar sesuai dan cocok dengan pikiran dan tingkah laku individu lainnya, terjadi diluar diri para individuitu masing-masing. Kemudian, kalau sintesaitu sudah menyebar dan menjadi pikiran tingkah laku dari sebagian besar warga masyarakat, maka sintesa itu menjadi fakta social yang mempunyai kekuatan memaksa maupun mengendalikan individu.
Konsep gagasan kolektif.
Durkheim menerangkan bahwa dalam alam pikiran individu warga masyarakat biasanya terjadi gagasan dari dari proses psikologi dalam organisma seorang individu yang berupa penangkapan pengalaman, rasa, sensasi, dan yang terjadi dalam organisma fisik, khususnya pada bagian saraf, sunsum, dan otak. Proses psikologi yag pertama ini karena asosiasi dan apersepsi mengakibatkan adanya bayangan-bayangan, cita-cita, dan gagasan dalam alam pikiran individu. Semua bayangan, cita-cita dan gagasan dalam alam pikirannya itu, oleh Durkheim disebut representation.
Konsep gagasan kolektif Durkheim, karena dalam suatu masyarakat ada banyak manusia hidup bersama, maka gagasan-gagasan dari sebagian sebagian besar individu yang menjadi warga masyarakat tergabung menjadi komplex-komplex gagasan yang lebih tinggi, yaitu gagasan kolektif tadi.
Teori Durkheim tentang azas religi.
Dalam bukunya les formes elementaires de la vie Religiuse Durkheim melkukan tiga hal yaitu :
1. menganalisa religi yang dikenal sebagai wujud religi dalam masyarakat yagn paling bersahaja, dengan maksud menentuakan unsur-unsur dan gagasan-gagasan elementer dari kehidupan keagamaan
2.Meneliti sumber-sumber azasi dari unsur tadi dalam religi yang bersahaja
3. Membuat generalisasi kereligi-religi lain mengenai fungsi azasi dari religi dalam masyarakat manusia
Defnisi Durkheim mengenai religi. Religi adalah suatu system berkaitan dari keyakinan-keyakinan dan upacara-upacara yang keramat, artinya yang terpisah dan pantang, keyakinan dan upacara yang berorientasi kepada suatu komunitas moral, yang disebut umat.

Gejala penting yang ditemui Durkheim adalah hungan erat antara organisasi social, system klen, dan keyakinan kepada totem, yang sebenarnya juga merupakan suatu jenis binatang, tumbuh-tumbuhan, atau benda keramat. Binatang, tumbuh-tumbuhan, atau bena yang dianggap totem samasekali bukan hal yang harus ditakuti atau yang mengesankan, dan seringkali hanya berupa batu atau pohon biasa, yang tidak berbeda sama sekali dengan batu atau pohon lain dan tanpa dijiwai oleh adanya roh yang menempatinya; namun totem tadi melambangkan solidaritas klen, memberi nama yang merupakan solidaritas klen, timbul dalam upacara-upacara klen dan seni hias mentato kulit, dan memberi nilai keramat kepada segala hal yang ada sangkut pautnya dengannya.
Marcell Mauss
Konsepsi mengenai Intensifikasi Integrasi sosial. Marcell Mauss menggambarkan dua morfologi social dari masyarakat es kimo, yaitu morfologi sosial musim panas dan morfologi sosial musim dingin.
Pada saat musim panas para warga es kimo pergi berburu kewilayah berburu masing-masing. Dalam wilayah berburu itu keluarga-keluarga inti tadi berkeliling selama berbulan-bulan, dengan membawa seluruh peralatan hidup mereka diatas sebuah penggeretan yang ditarik anjing.
Pada saat musim dingin semua keluarga inti warga tadi berkumpul kembali dipemukiman induk. Disana beberapa keluarga inti yang berhubungan dekat bergabung menjadi keluarga-keluarga luas dan tinggal dalam rumah-rumah besar yang dibuat dari kayu. Rumah besar itu mempunyai suatu balai komunitas dimana selama musim dingin keluarga-keluarga luas yang menjadi anggotanya melakukan suatu rangkaian upacara keagamaan bersama. Upacara-upacra yang mengandung unsur tukar-menukar harta, makan bersama, menyanyi dan menari bersama hingga mencapai trance, mempunyai fungsi untuk mempertinggi kesadaran kolektif dan mengintefsifkan solidaritas social.
Lucien Levy- Bruhl
Konsep Mentalis primitive.
Beda antara cara berpikir primitive dan cra berpikir menurut logika ilmiah terletak daal mtiga unsur yaitu :
A.Loi de participation
B.Unsur Mistik
C.Unsur prelogigue
Loi de participation terlihat dalam proses-proses rohani yang menhubungkan hal-hal yang tampak pada lahirnya sama, hal-hal yang baginya sama, hal-hal yang bunyi sebutannya sama, hal-hal yang berdekatan tempat , waktu, masing-masing mempunyai hubungan seba- akibat, malahan sering menghubungkannya.
Mistigue untuk melukiskan suatu sifat dari alam pikiran primitf, yaitu sifat yang menganggap seluruh alam diliputi oleh suatu kekuatan gaib tertentu yang rupanya-rupanya berada didalam segala hal. Kekuatan itu dianggap berada diluar kemampuan alam pikiran manusia, tetapi dapat menyebabkan kebahagiaan maupun malapetaka.
Preologigue untuk menerangkan suatu sifat dari alam pikiran primitive yang memungkinkan untuk menganggap sesuatu hal itu ada dan juga tidak ada pada suatu tempat dan dan saat. Anggapan bahwa Tuhan dapat berada pada suatu tempat tertentu pada suatu saat yang tertentu pula, tetapi dapat juga berada pada tempat lain pad asaat itu juga, dapat dipandang sebagai contoh dari cara berpikir yang sifatnya prelogigue

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: